Penulis: Muhammad Abubakar
Kalaksa BPBD Kota Tidore Kepulauan
——————————
Ramadan 2026 datang bukan hanya sebagai bulan suci, tetapi sebagai alarm spiritual di tengah dunia yang semakin bising.
DI SAAT notifikasi tak pernah berhenti, harga kebutuhan pokok naik-turun, dan opini berseliweran tanpa saring, Ramadan hadir mengajarkan satu hal mendasar: berhenti sejenak, lalu menata ulang arah hidup.
Kita hidup di zaman serba cepat. Informasi menyebar dalam hitungan detik, perdebatan memanas dalam kolom komentar, dan gaya hidup konsumtif seolah menjadi standar kebahagiaan.
Di tengah realitas itu, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan mengendalikan ego, menahan amarah, dan menyaring kata sebelum diucapkan atau diketik.
Ramadan 2026 seharusnya menjadi momentum “puasa naik kelas”. Bukan hanya puasa fisik, tetapi juga puasa dari ujaran kebencian, puasa dari perilaku boros, dan puasa dari sikap masa bodoh terhadap sesama. Jika lapar saja bisa kita tahan, seharusnya emosi dan ego pun bisa kita kendalikan.
Secara sosial, Ramadan selalu memunculkan wajah terbaik masyarakat: berbagi takjil, santunan anak yatim, hingga gerakan sedekah kolektif. Namun, tahun ini perlu lebih dari sekadar seremoni.
Zakat dan infak harus menjadi solusi nyata bagi ketimpangan. Belanja Ramadan bisa diarahkan untuk menguatkan UMKM lokal. Setiap rupiah yang dibelanjakan dapat menjadi bagian dari gerakan solidaritas.
Masjid pun kembali hidup. Saf-saf yang rapat dalam tarawih bukan hanya simbol ibadah, tetapi simbol persatuan. Di tengah perbedaan pilihan politik, pandangan, dan latar belakang, Ramadan mengajarkan bahwa kita berdiri sejajar di hadapan Tuhan. Tidak ada yang lebih tinggi selain ketakwaan.
Bagi generasi muda, Ramadan 2026 juga adalah panggung kreativitas. Konten dakwah, podcast religi, hingga kampanye sosial bisa menjadi sarana menyebarkan nilai kebaikan. Namun, substansi harus tetap diutamakan. Spirit Ramadan bukan untuk pencitraan, melainkan perubahan nyata.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: setelah Ramadan berlalu, apa yang berubah? Jika hanya pola makan yang bergeser tanpa perubahan sikap, maka kita baru lulus setengah jalan.
Tetapi jika Ramadan mampu membentuk kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, dan lebih peduli, maka itulah kemenangan yang sesungguhnya.
Ramadan 2026 bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki diri, memperkuat empati, dan membangun masyarakat yang lebih hangat.
Sebab pada akhirnya, puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang menghadirkan cahaya dalam diri, lalu membagikannya kepada sekitar.***
