Anwar Husen
Pemerhati Sosial/ Dewan Pakar KAHMI Maluku Utara
——————————–
Greenpeace tak butuh narasi agama untuk menyuarakan pesan perlindungan lingkungan hidup, perusakan alam, krisis iklim, dan promosi perdamaian
PERILAKU buruk yang diulang, akan membentuk kebiasaan. Dan kebiasaan buruk yang diterima, dipelihara dengan intensitas tertentu dalam interaksi sosial, kelak akan bernilai hukum. Sedemikian alurnya, sehingga muncul ungkapan, keburukan yang diulang akan jadi kebenaran. Artinya diterima sebagai “benar”. Tetapi tak ada yang menggugat perilaku baik yang diulang. Ini gejala sosial yang umum. Lebih buruk lagi, jika keburukan itu dilakukan tanpa pengetahuan, kesadaran dan orientasi.
Orientasi Nilai Kebaikan
Menjunjung tinggi nilai-nilai kebersihan dalam hidup adalah perilaku baik dan positif. Dalam skala dan intensitas tertentu, perilaku menjunjung tinggi nilai-nilai kebersihan itu menunjuk kebijakan tata kelola persampahan.
Urusan sampah memang bisa di bilang urusan besar. Itu karena, hampir setiap tindakan manusia, akan menghasilkan sampah.
Sampah dan Validasi Kebersihan
Sampah, khususnya sampah organik yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu berbagai masalah serius, mulai dari pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan. Dalam skala yang besar, bisa memicu perubahan iklim akibat produksi gas metana. Tumpukan sisa makanan yang membusuk menjadi sarang ideal bagi vektor penyakit seperti lalat, tikus, kecoa, dan nyamuk yang dapat menyebarkan infeksi. Meski periode pembusukan jenis material sampah organik berbeda-beda, pembusukan material organik, terutama di area terbuka, melepaskan senyawa amonia dan sulfur yang menimbulkan bau menyengat dan mengganggu kenyamanan dan aspek estetika.
Volume sampah itu sangat berkait dengan urusan mobilitas ekonomi. Makin tinggi mobilitas ekonomi sebuah kota, makin besar potensi sampah yang dihasilkan.
Pemandangan tumpukan sampah di area terbuka, bukan hal baru. Dan sepintas mungkin terlihat biasa saja, “cuma” sampah. Tetapi jika ditelisik lebih dalam, ini soal mentalitas dan prilaku hidup. Hal yang sangat prinsip.
Hidup Bersih Sebagai Kebutuhan
Kita hidup di era digitalisasi, era ketika hampir semua sisi kehidupan jadi serba digital. Tren pelayanan publik oleh instansi pemerintah juga sama. Semua itu harus ditempuh untuk menyiasati celah pelayanan, tak ada pelayanan kalau tak ada subjek yang punya otoritas memberi layanan.
Secara filosofis, tugas pelayanan publik oleh pemerintah untuk kondisi emergency, memang harus beresiko dan punya konsekuensi. Apapun masalahnya.
Kita hidup di era, ketika publik makin kritis dan peka terhadap hak-haknya yang bersumber dari pelayanan pemerintah. Dan tren zaman memang sudah begitu. Mindset dan prilaku aktor pemberi layanan, mestinya telah beberapa langkah melampaui ekspektasi publik.
Kebijakan dan Etos Kebersihan
Etos itu perilaku positif yang terlembaga dalam diri. Tidak bersifat insidentil. Digerakkan oleh variabel internal, bukan eksternal. Mau ada sumber daya atau tidak, mau ada puja-puji atau tidak, itu tak penting. Ada keresahan yang senantiasa bergelayut untuk respek, karena ada penghayatan terhadap sesuatu nilai positif tertentu.
Award Adipura dan Etos Kebersihan
Motivasi tertinggi dari penghargaan adipura bagi penyelenggara pemerintahan di daerah, adalah membangun dan membentuk etos hidup bersih. Hidup yang dilandasi semangat mengakomodasi dan mempertahankan, atau bahkan merefleksikan nilai-nilai kebersihan itu dalam setiap kebijakannya.
Frekuensi mendapatkan award adipura, semestinya menjadi indikator paling logis, untuk makin mengukuhkan etos tentang perilaku hidup bersih, yang cerminan paling nyatanya adalah dukungan kebijakan. Ada korelasinya. Ini indikator paling dasarnya. Tanpa semua ini, semuanya terlihat semu. Dan tanpa arah. Indikatornya adalah dukungan kebijakan dan penganggaran yang kuat dan akseptabel dalam tata kelola persampahan.
Artinya, tak selalu tergantung situasi. Apapun situasinya, sampah harus terkelola secara baik. Ibarat rutinitas kita untuk mandi yang minimal dua kali dalam sehari. Selama masih ada air, tindakan untuk malas mandi atau membersihkan tubuh, di anggap perilaku yang abnormal.
Agama dan Etos Kebersihan
Di dalam Islam, pangkal ibadah itu bersuci (thaharah). Dalam kondisi tertentu ketika sulit atau tidak bisa mendapatkan air, ada konpensasi tayammum. Pesannya, bersuci itu memiliki kedudukan yang istimewa.
Greenpeace tak butuh narasi agama untuk menyuarakan pesan perlindungan lingkungan hidup, perusakan alam, krisis iklim, dan promosi perdamaian.
Kampanye orientasi back to natur yang menjadi ruh kepariwisataan global saat ini, adalah wujud kesadaran tertinggi tentang pentingnya perlindungan dan harmoni kehidupan dengan alam. Tak butuh verifikasi ajaran agama.
Idealnya, award atas prestasi kebijakan tata kelola kebersihan dan persampahan, harus bermakna dan menjadi cermin paling faktual atas validasi nilai-nilai hidup positif yang konsisten terpelihara dalam masyarakat kita. Bukan karena faktor lainnya. Tanpa itu semua, semuanya tampak seperti lagu lama yang diputar ulang. Wallahua’lam.
