JEJAKMALUT24.COM – Pelatih tim nasional Inggris, Thomas Tuchel, mengakui Lionel Messi masih menjadi ancaman terbesar bagi Argentina jelang semifinal Piala Dunia 2026. Meski telah mempelajari permainan La Albiceleste secara mendalam, Tuchel menilai tidak ada cara mudah untuk menghentikan sang kapten.
Laga semifinal antara Argentina vs Inggris di Atlanta akan menjadi pertemuan pertama Messi melawan “Three Lions” sepanjang karier internasionalnya. Dalam 205 penampilan bersama Argentina, pemain berusia 39 tahun itu belum pernah menghadapi Inggris karena kedua negara terakhir kali bertemu pada laga persahabatan tahun 2005, saat Messi baru menjalani debutnya bersama tim nasional.
Memasuki semifinal, Messi tampil luar biasa dengan koleksi delapan gol dan dua assist, sekaligus menjadi motor utama Argentina dalam upaya mempertahankan gelar juara dunia.
Saat ditanya mengenai strategi untuk meredam Messi, Tuchel sempat melontarkan candaan.
“Ya, kami akan menjaga ketat pemain jadul itu,” ujar Tuchel sambil tertawa dikutip dari Marca.com, Rabu (15/7/2026).
Namun pelatih asal Jerman tersebut menegaskan bahwa tim pelatih Inggris benar-benar telah menganalisis permainan Messi secara detail.
“Kami telah mendeteksi beberapa pola dalam permainannya. Tetapi jika pola itu berhasil dihentikan, mereka akan menemukan pola baru. Sangat unik bermain melawan juara bertahan dan melawan Lionel Messi,” kata Tuchel.
Menurutnya, kemampuan Messi membaca ruang membuat setiap analisis menjadi sangat sulit diterapkan di lapangan.
“Semua orang tahu area mana yang ingin dia tempati. Tetapi bola selalu bisa datang kepadanya dan dia menemukan celah. Itulah kualitas yang dimilikinya,” tambahnya.
Tuchel juga memberikan pujian tinggi terhadap kepemimpinan Messi bersama Argentina.
“Sungguh luar biasa bagaimana dia memimpin tim ini. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkannya. Dia adalah pemimpin dan pemain kunci di setiap tim yang dibelanya,” ungkap mantan pelatih Chelsea dan Bayern Munchen tersebut.
Ia menambahkan bahwa kualitas teknis para pemain Argentina dalam mengalirkan bola kepada Messi menjadi salah satu aspek yang paling diwaspadai Inggris.
“Ketika Messi menguasai bola, semua pergerakan dimulai. Eksekusi teknis dalam memberikan umpan kepadanya berada pada level tertinggi. Ada banyak hal yang harus kami antisipasi. Kami akan tetap bermain dengan identitas kami, tetapi kami siap menghadapi tantangan besar ini,” katanya.
Sementara itu, mantan bek Liverpool yang kini menjadi analis Sky Sports, Jamie Carragher, menyarankan Inggris memanfaatkan kontribusi bertahan Messi yang tidak terlalu besar.
“Argentina pada dasarnya hanya bertahan dengan sembilan pemain lapangan. Inggris harus memanfaatkan situasi itu,” ujar Carragher.
Meski demikian, Carragher menegaskan bahwa komentarnya bukan kritik terhadap Messi.
“Messi sudah berada di level elite selama lebih dari 20 tahun dan belum ada yang benar-benar menemukan cara menghentikannya. Tetapi Inggris tetap harus memiliki rencana. Anda sedang menghadapi pemain yang mungkin merupakan yang terbaik sepanjang masa, dan dia kembali membuktikannya di Piala Dunia 2026,” tutupnya.***
