JEJAKMALUT24.COM – Harga cabai rawit merah kembali bikin dapur panas di awal Ramadan. Di sejumlah daerah, harganya menembus Rp 75 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram.
Pemerintah pun tak mau kecolongan. Lewat operasi pasokan besar-besaran, cabai bakal “diserbu” ke pasar induk demi menekan gejolak harga.
Langkah ini dipimpin Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang memastikan stok sebenarnya aman. Masalahnya bukan kekurangan produksi, melainkan hujan deras yang membuat petani enggan memanen.
“Barang banyak di lahan. Tapi hujan tinggi membuat petik cabai jadi berisiko. Ini yang bikin distribusi tersendat,” ujar Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, dikutip dari laman resmi Bapanas, Minggu, (22/2).
Operasi Cabai ke Dua Titik Kunci
Pemerintah membidik dua titik krusial distribusi: Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Tanah Tinggi. Dua pasar ini dianggap sebagai “jantung” pembentuk harga cabai di Jakarta dan sekitarnya.
Pasokan digerakkan dari sentra produksi Champion Cabai binaan Kementerian Pertanian di Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, Enrekang, NTB, Solok hingga Aceh.
Skemanya jelas:
- Harga di petani: Rp 45.000/kg
- Serapan pedagang pasar induk: Rp 50.000/kg
- Target harga eceran: Rp 60.000–65.000/kg
Minimal 2 ton per hari akan digelontorkan selama dua pekan ke depan.
“Kalau tidak kita dorong sekarang, harga bisa bertahan di Rp 80 ribu. Bahkan di hilir bisa tembus ratusan ribu,” tegas Ketut.
Tahun Ini Masih Lebih Jinak
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata harga cabai rawit nasional pada minggu kedua Februari 2026 berada di Rp 67.038/kg. Kenaikan terjadi di 58,33 persen wilayah Indonesia.
Namun jika dibandingkan awal Ramadan 2025, kondisi tahun ini relatif lebih terkendali. Tahun lalu harga sempat menyentuh Rp 85.694/kg dengan lonjakan di 65 persen wilayah.
Artinya, gejolak memang ada. Tetapi belum separah tahun sebelumnya.
Presiden Ikut Pantau Harga
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut stabilitas harga Ramadan menjadi perhatian langsung Presiden Prabowo Subianto.
“Presiden sampai tiga kali sehari menanyakan harga pangan. Pesannya jelas: jaga rakyat,” ujar Amran.
Kini publik menunggu, apakah strategi “serbu pasar induk” benar-benar ampuh menurunkan harga di tingkat konsumen, atau justru hanya menahan gejolak sementara di tengah cuaca yang belum bersahabat.***

