JEJAKMALUT24.COM – Menjelang bulan suci Ramadan, harga minyak goreng bersubsidi Minyakkita di Kota Tidore Kepulauan melonjak tajam hingga menembus Rp20 ribu per liter. Padahal, pemerintah telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyakkita sebesar Rp15.700 per liter.
Berdasarkan pantauan di pasar tradisional dan sejumlah toko, Minyakkita dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter.
Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada daya beli masyarakat yang tengah bersiap menghadapi meningkatnya kebutuhan bahan pokok selama Ramadan.
Ketua Komisi II DPRD Kota Tidore Kepulauan, Abdurahman Arsyad, mengatakan pihaknya dalam waktu dekat akan memanggil Dinas Perindagkop, Dinas Ketahanan Pangan serta instansi terkait guna membahas kesiapan dan strategi pengendalian harga bahan pokok jelang Ramadan hingga Idulfitri.
Menurutnya, DPRD tidak ingin lonjakan harga bahan pokok, khususnya minyak goreng, semakin melampaui ketentuan HET.
Apalagi, Komisi II telah menemukan langsung di lapangan bahwa harga Minyakkita di pasaran sudah melebihi batas yang ditetapkan pemerintah.
“Kami akan memanggil instansi terkait dalam waktu dekat guna mengetahui sejauh mana kesiapan serta strategi mereka dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bahan pokok menjelang Ramadan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Tidore Kepulauan, Yakub Maradjabessy, menegaskan pemerintah daerah akan memperkuat pengawasan melalui Satgas Pangan yang melibatkan Pemda dan Polri guna mengendalikan harga sekaligus menyamakan persepsi pedagang terkait penerapan HET.
“Salah satu cara yang perlu kita lakukan itu adalah menyamakan persepsi terkait harga HET yang diatur oleh pemerintah. Agar kenaikan harga minyak goreng yang dikenakan oleh pedagang itu tidak mendahului jauh dari HET yang ditentukan,” kata Yakub.
Menurut Yakub, tingginya harga Minyakkita di tingkat pedagang dipicu oleh harga perolehan Minyakkita dari distributor yang sudah melampaui ketentuan. Akibatnya, pedagang pun menjual dengan harga di atas HET.
“Karena harga perolehan sudah tinggi, maka harga jual ikut naik. Tugas kami melakukan pendekatan serta pengawasan agar harga tidak melambung jauh dari HET,” ujarnya.
Hingga kini, pemerintah daerah bersama Polresta masih fokus pada pengawasan dan imbauan kepada pedagang. Penindakan hukum belum dilakukan karena masih menelusuri persoalan distribusi dari sisi hulu.
Ke depan, pengawasan harga pangan termasuk minyak goreng akan diperkuat secara terintegrasi bersama Polri dan instansi terkait, termasuk Bulog.
Tim pengawasan tersebut telah dibentuk melalui Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 4 Tahun 2025 tentang Satuan Tugas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan dan Mutu Pangan.
Selain pengawasan, Pemda Tidore juga menyiapkan langkah cepat untuk menekan harga jelang Ramadan, di antaranya berkoordinasi dengan Bulog guna menyalurkan Minyakkita dan minyak goreng lainnya kepada masyarakat sesuai HET.
“Ada beberapa langkah juga yang bisa kita lakukan yaitu berkoordinasi dengan Bulog, agar minyak goreng yang dimiliki oleh Bulog itu, baik itu minyakkita maupun minyak goreng jenis lain bisa kita salurkan ke masyarakat dengan harga yang sesuai dengan HET,” jelasnya.
Seluruh kios pangan juga diarahkan mengambil bahan pokok langsung dari Bulog dengan harga lebih murah.
“Selain itu, kita juga sudah membuat keputusan agar seluruh kios-kios pangan yang ada di Kota Tidore, bisa mengambil bahan pokok baik beras dan minyak itu dari Bulog dengan harga yang lebih murah,” tegasnya.
Selain itu, lanjut Yakub, pemerintah daerah bersama Bulog dan Bank Indonesia juga tengah menyiapkan gelar pasar murah dalam waktu dekat guna menjaga stabilitas harga serta membantu masyarakat menghadapi lonjakan kebutuhan selama Ramadan.***

